Selasa, 10 Agustus 2010

Dzikir Sebagai Sarana Membersihkan Jiwa

“Tidaklah kalian ketahui bahwa hati hamba-hamba Allah yang beriman itu dibahagiakan oleh Allah dengan banyak berzikir kepada-Nya” (QS Al-Hadid (57) : 16)

Zikir dalam pengertian yang luas adalah kesadaran tentang kehadiran Allah dimana dan kapan saja, serta kesadaran akan kebersamaan-Nya dengan makhluk; kebersamaan dalam arti pengetahuan-Nya terhadap apapun dialam raya ini serta bantuan dan pembelaan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya yang taat. Zikir dalam peringkat inilah yang menjadi pendorong utama melaksanakan tuntunan-Nya dan menjauhi larangan-Nya, bahkan hidup bersama-Nya.
Dengan berzikir berarti kita berusaha menggapai rahmat Allah , dan doa para malaikat. Dengan banyak berzikir kepada-Nya, maka sesuai janji Allah, Dia akan menyelamatkan mereka dari semua bentuk kedzaliman, kegelapan dan kemaksiatan. Dalam hadist Abu Hurairah dan Abu Said Al-Khudri dijelaskan bahwa Rasulullah pernah bersabda:
“Tidaklah duduk suatu kaum yang berzikir menyebut nama Allah dan dinaungi para malaikat, dipenuhi mereka oleh rahmat Allah dan diberi ketenangan, karena Allah menyebut-nyebut nama mereka di hadapan malaikat yang ada di sisinya.” (HR Muslim, At-Turmudzi dan Ibnu Majah).

Banyak cara berzikir yang telah dituntunkan oleh Rasulullah kepada hamba-hamba-Nya. Sebagai contoh berzikir secara be-rulang-ulang dengan mengagungkan asma Allah yang lazim pula disebut wirid. Ada juga zikir dengan cara mengeraskan suara seperti adzan, takbiran dan talbiyah. Bisa juga berzikir dalam hati atau sirri. Dapat juga melalui tafakkur diam dengan berusaha memahami penciptaan alam ini dan ada pula berzikir itu setiap saat, baik sewaktu berjalan, duduk, berdiri, sambil bekerja, bahkan ketika berbaring sekalipun.
Karena berzikir adalah penterapian pikiran dan mental agar selalu ingat setiap saat kepada Allah , maka kapan saja dan di mana saja berzikir itu tidak ada halangan atau larangan. Karena dengan demikian akan membangkitkan kesadaran berketuhanan yang tinggi untuk membersihkan jiwa dari kekotoran pikiran. Kita tidak boleh ragu-ragu zikir kita tidak didengar Allah . Kita harus yakinkan diri melalui qolbu kita bahwa Allah itu dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Memang untuk berzikir yang baik itu bukan gampang, tapi tidak pula terlalu sulit. Yang penting harus dilaksanakan.
Menurut ahli zikir, apabila zikir seseorang telah mantap akan terasa perubahan mental dari waktu ke waktu. Setiap hari akan ada perubahan jiwa yang luar biasa terutama kelembutan hati yang terpancar dari tutur sapanya. Ini pula awal pendidikan akhlak mulia yang terbentuk karena pengaruh zikir.
Surat al-Ra'd / 13:28, menyebutkan bahwa dengan mengikat (dzkir) kepada Allah maka hati menjadi tenteram. Dzikir sebagai metode mencapai ketenagan hati dilakukan dengan tata-cara tertentu. Dzikir dipahami dan di ajarkan dengan mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah secara keras (dzikr jahr), dan dengan kalimat-kalimat thayyibah yang memfokus, dari kalimat syahadat La ilaha illa Allah ke lafazh Allah dan sampai ke lafazh hu.
Disamping itu, dzikir berkautan erat dengan ketentraman jiwa dan dapat dianalisis secara ilmiah. Dzikir secara lughawi artinya ingat atau menyebut. Jika diartikan menyebut maka peranan lisan lebih dominan, tetapi jika diartikan ingat, maka kegiatan berpikir dan merasa (kegiatan psikologis) yang lebih dominan. Dari segi ini maka ada dua alur pikir yang dapat diikuti:

1. Manusia memiliki potensi intelektual.
Potensi itu cenderung aktif bekerja mencari jawab atas semua hal yang belum diketahuinya. Salah satu hal yang merangsang berpikir adalah adanya hukum kausalitas di muka bumi ini. Jika seseorang melahirkan suatu penemuan baru, bahwa A disebabkan B, maka berikutnya manusia tertantang untuk mencari apa yang menyebabkan B. Begitulah seterusnya sehingga setiap kebenaran yang di temukan oleh potensi intelektual manusia akan diikuti oleh penyelidikan berikutnya sampai menemukan kebenaran baru yang mengoreksi kebenaran yang lama, dan selanjutnya kebenaran yang lebih baru akan ditemukan mengoreksi kebenaran yang lebih lama.
Sebagai makhluk berfikir manusia tidak pernah merasa puas terhadap 'kebenaran ilmiah' sampai ia menemukan kebenaran perenial melalui jalan supra rasionalnya. Jika orang telah sampai kepada kebenaran ilahiah atau terpandunya pikir dan dzikir, maka ia tidak lagi tergoda untuk mencari kebenaran yang lain, dan ketika jiwa itu menjadi tenang, tidak gelisah dan tidak ada konflik batin.
Selama manusia masih memikirkan ciptaan Allah SWT dengan segala hukum-hukumnya, maka hati tidak mungkin tenteram dalam arti tenteram yang sebenarnya, tetapi jika ia telah sampai kepada memikirkan Sang Pencipta dengan segala keagungannya, maka manusia tidak sempat lagi memikirkan yang lain, dan ketika itulah puncak ketenangan dan puncak kebahagiaan tercapai, dan ketika itulah tingkatan jiwa orang tersebut telah mencapai al- nafs al-muthma'innah.

2. Manusia memiliki kebutuhan dan keinginan yang tidak terbatas
Oleh karena itu selama manusia masih memburu yang terbatas, maka tidak mungkin ia memperoleh ketentraman, karena yang terbatas (duniawi) tidak dapat memuaskan yang tidak terbatas (nafsu dan keinginan). Akan tetapi, jika yang dikejar manusia itu Allah SWT yang tidak terbatas kesempurnaan-Nya, maka dahaganya dapat terpuaskan. Jadi jika orang telah dapat selalu ingat (dzikir) kepada Allah maka jiwanya akan tenteram, karena 'dunia' manusia yang terbatas telah terpuaskan oleh rahmat Allah yang tidak terbatas.
Hanya manusia pada tingkat inilah yang layak menerima panggilan-Nya untuk kembali kepada-Nya dan untuk mencapai tingkat tersebut menurut al-Rozi hanya dimungkinkan bagi orang yang kuat potensinya dalam berpikir ketuhanan atau kuat dalam 'uzlah dan kontemplasi (tafakkur)-nya.
Jadi, kata tathma’innu/ menjadi tenteram adalah penjelasan tenang kata beriman. Iman tentu saja bukan sekedar pengetahuan tentang objek iman, karena pengetahuan tentang sesuatu belum dapat mengantar kepada keyakinan dan ketenteraman hati. Dan al-nafs al-muthma'innah adalah nafs yang takut kepada Allah, yakin akan berjumpa dengan-Nya, ridlo terhadap qodlo-Nya, puas terhadap pemberian-Nya, perasaannya tenteram, tidak takut dan sedih karena percaya kepada-Nya, dan emosinya stabil serta kokoh.

KESIMPULAN

Faedah-faedah Dzikir yaitu:
• Meundukkan setan dan menghidupkan hati
• Dzikir menyebabkan Allah ingat kepada ahlinya dan tidak melupakannya.
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (Aku limpahkan rahmat dan ampunan-Ku kepadamu) , dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (2:152)
• Dzikir membershkan hati dari Dosa
• Dzikir merupakan sarana untuk menurunkan rahmat dari Allah.
• Dzikir Menjadikan Hati Yang Keras Berubah Lunak

Yang menjadi suatu hal penting dalam menerapkan dzikir sebagai sarana membersihkan jiwa yakni bagaimana kita menata adab-adab kita. Adab-adab dalam berdzikir antara lain:
1. Semata-mata niat mengabdikan diri kepada Alloh serta menyadari dan merasa bahwa segala sesuatu gerak-geriknya adalah Alloh yang menciptakn dan menitahkan. ( yakni mengetrapkan “Laahaulaa walaa quwwata illaa Billah”)
2. Hatinya hudlur berkonsentrasi kepada Allah. Sabda Nabi : “ Penerapan ihsan yaitu engkau beribadah kepada Alloh seakn-akn melihat-Nya, maka apabila belum bisa, sadarilah sesungguhnya Alloh melihat kamu ( H.R Bukhori dan Muslim dari Abi Hurairoh )
3. Istihdlor, yakni merasa berada dihadapan Rosuululloh .
4. Tadzallul dan Tadhollum, yakni merasa rendah diri akibat perbuatan dosanya dan merasa berlumuran dosa dan banyak berbuat dholim.
5. Iftiqor, merasa butuh sekali, butuh terhada maghfiroh, perlindungan, dan taufiq-hidayah Alloh, butuh syafa'at Rosululloh.

Sabtu, 24 Juli 2010

Profesi, Profesional, dan Profesionalisme

A. Pendahuluan

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan taufik serta hidayah kepada kita. Yang memberikan kita beribu kenikmatan baik kesehatan, iman dan ikhsan sehingga saya dapat menyelesaikan tugas halaqoh ini dengan baik dan lancar tanpa halangan suatu apapun. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi agung Muhammad SAW yang membawa kita dari zaman gelap gulita ke zaman terang benderang seperti sekarang ini, dan semoga kita tergolong umat yang mendapatkan syafaat di yaumul kiyamah nanti.
Dalam masyarakat yang terrbuka, maksudnya yang para anggota dapat menerima kedatangan anggota dari masyarakat lain, baik dari satu atau lebih dari satu masyarakat, maka akan terjadilah apa yang akan disebut dengan kontak bahasa. Bahasa dari masyarakat yang menerima kedatangan akan saling mempengaruhi dengan bahasa masyarakat yang datang. Hal yang sangat menonjol yang bisa terjadi dari adanya kontak bahasa ini adalah terjadinya atau terdapatnya apa yang disebut bilingualisme, dengan berbagai macam kasusnya, seperti interferensi, integrasi, alih kode dan campur kode.
Berbicara tentang bahasa tentunya kita tidak akan lepas dengan linguistik, linguistik, istilah linguistik berasal dari bahasa : Inggris : Linguistics, Prancis: Lingistique, dan bahasa Latin : Lingua. Linguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa sebagai bahasa.
Dalam linguistik bahasa Indonesia terdapat 4 kajian pokok tentang hal ini.
Pertama fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan bunyi-bunyi bahasa. Fonologi terbentuk dari kata fon = bunyi dan logi = ilmu
Kedua morfologi ialah bidang kajian linguistik yang membahas tentang kata seluk beluk kata.
Ketiga adalah Sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu “sun” yang berarti “dengan” dan kata “tattein” yang berarti “menempatkan”. Secara etimologi sintaksis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata / kalimat.
Keempat Semantik merupakan salah satu bidang linguistik yang mempelajari tentang makna.
Dalam hal ini kita akan membahas salah satu kajian linguistik yaitu morfologi.

B. Pembahasan

Kata morfologi berasal dari bahasa Belanda morphologi, bahasa Inggris morphology yang mana terdiri dari dua suku kata yaitu morf: bentuk dan logy, logie: ilmu. Dalam linguistik umum istilah morfologi diartikan sebagai salah satu cabang linguistik yang mengkaji tentang kata dan seluk-beluk di dalamnya. Macam-macam kata dalam bahasa indonesia ada banyak salah satunya adalah kata serapan. Macam-macam kata serapan terbagi menjadi 4 yaitu:

1. Adopsi
Adopsi ialah pemakaian bahasa mengambil bentuk dan makna bahasa asing atau daerah secara mutlak
Contoh : Dari Bhs Sansekerta : Aneka, Asrama, Budaya
Dari Bhs Arab : Abjad. Adil, Akal
Dari Bhs Parsi : Bandar, Daftar, Istana
Dari Bhs Tamil : Kolam, Kuli, Onde – onde
Dari Bhs China : Cawan, Kecap.
Dari Bhs Belanda : Atlas, Bom, Kalender
Dari Bhs Inggris : Dialog, Fatal, Filter.

2. Adaptasi
Adaptasi ialah Pemakaian bahasa/ mengambil bahasa asing lalu menyesuaikannya dalam ejaan yang berlaku
Contoh : Logic Logica Logika
Fanatic Fanatik

3. Terjamahan
Terjamahan ialah Pemakaian bahasa mengambil konsep dari bahasa asing kemudian mencari padanannya dalam Bahasa Indonesia.
Contoh :
Overlap = tumpang tindih
Try Out = uji coba
Pilot Project = proyek rintisan

4. Kreasi
Kreasi ialah Pemakaian bahasa mengambil konsep dari bahasa asing / daerah kemudian dikreasi lagi.
Contoh :
Check Out = Keluar
Check In = Masuk
Effective = Hasil guna
Spare Parts = suku cadang
Kata profesi, profesinal maupun profesinalisme secara sekilas memang Nampak hampir sama, namun ada perbedaan sedikit antara ketiganya.

a. Kata Profesi berasal dari bahasa latin yang mempunyai arti menunjukan suatu bidang pekerjaan yg dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, tertentu).
Misalnya: Guru, Dokter, Perawat

b. Kata profesional berasal dari bahasa inggris ialah kata yang bersangkutan dengan profesi; dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya, serta mengharuskan adanya pengujian kepadanya.
Contoh: Cris John seorang Petinju profesional.
Ibuku mengajar dengan profesional

c. Kata profesionalisme juga berasal dari bahasa inggris yang mempunyai arti mutu, kualitas, dan tindak tanduk yg merupakan ciri suatu profesi atau orang yg profesional.
Contoh: perusahaan kecil perlu ditingkatkan dulu profesionalismenya di waktu sekarang
Profesionalisme guru Indonesia perlu ditingkatkan

C. Penutup

Dari ketiga pengertian diatas dapat disimpulakan bahwa kata profesi, profesional maupun profesionalisme mempunyai kaitan yang erat. yaitu profesi mempunyai arti menunjukan suatu bidang pekerjaan yg dilandasi pendidikan keahlian, professional yang bersangkutan dengan profesi; dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya, serta mengharuskan adanya pengujian kepadanya. profesionalisme juga berasal dari bahasa inggris yang mempunyai arti mutu, kualitas, dan tindak tanduk yg merupakan ciri suatu profesi atau orang yg profesional.

Daftar Rujukan

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Badudu, J.S. 2003. Kata-Kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Kompas

Kamis, 01 Juli 2010

FUNGSI DAN TUGAS ILMU PENGETAHUAN

A. Pengertian Ilmu Pengetahuan

Kata ilmu (B. Indonesia) berasal dari bahasa Arab, a’lama yang berarti pengetahuan. Kata ini sering disejajarkan dengan kata science yang arti dasarnya pengetahuan.
Pengetahuan (B. Indonesia) semakna dengan kata knowledge (B. Inggris). Kata ini sering diartikan sebagai sejumlah informasi yang diperoleh manusia melalui pengamatan, pengalaman (empiri) dan penalaran (rasio). Pengetahuan tentu berbeda dengan ilmu atau science terutama dalam pemakaianya. Ilmu lebih menitikberatkan pada aspek teoretisasi dan pengujian.
Oleh karena itu, kebenaran ilmu dapat digeneralisasi, karena ia diperoleh melalui sejumlah penelitian dan pembuktian, sedangkan pengtahuan belum dapat digunakan untuk proses generalisasi karena ia tidak menurut penelitian dan pengkajian lanjutan.
Ada yang mengartikan bahwa Ilmu Pengetahuan adalah Kumpulan pengetahuan yang benar disusun dengan sistem dan metode untuk mencapai tujuan yang berlaku universal dan dapat diuji/diverifikasi kebenarannya.
Ilmu pengetahuan terdiri dari 2 kata, yaitu “Ilmu” dan “Pengetahuan” yang masing-masing mempunyai identitas sendiri-sendiri.
Di kalangan ilmuwan ada keseragaman pendapat, bahwa ilmu itu selalu tersusun dari pengetahuan secara teratur, yang diperoleh dengan pangkal tumpuan tertentu dengan sistematis, metodis, rasional/logis, empiris, umum dan akumulatif. Pengertian pengetahuan sebagai istilah filsafat tidaklah sederhana karena bermacam-macam pandangan dan teori. pendapat diantaranya, yaitu :
 Aristoteles, bahwa pengetahuan merupakan pengetahuan yang dapat diinderai dan dapat merangsang hati.
 Decrates, ilmu pengetahuan merupakan serba budi.
 Bacon dan David Home, bahwa pengetahuan diartikan sebagai pengalaman indera dan batin.
 Immanuel Kant, pengetahuan merupakan persatuan antara budi dan pengalaman.
 Teori Phyroo, mengatakan bahwa tidak ada kepastian dalam pengetahuan.
Dari berbagai macam pandangan tentang pengetahuan diperoleh sumber-sumber pengetahuan berupa ide, kenyataan, kegiatan akal-budi, pengalaman, sintesis budi, atau meragukan karena tak adanya sarana untuk mencapai pengetahuan yang pasti.
Pengetahuan merupakan suatu kata yang digunakan untuk menunjukan apa yang diketahui oleh seseorang tentang sesuatu. Menurut Rapar, ilmu pengetahuan senantiasa memiliki subyek, yakni yang mengetahui, karena tanpa ada yang mengetahui tidak mungkin ada ilmu pengetahuan. Jika ada subyek pasti ada pula obyek, yakni sesuatu yang ihwalnya diketahui atau hendak diketahui. Tanpa obyek, tidak mungkin ada ilmu pengetahuan.

B. Sumber Ilmu Pengetahuan

Sumber pengetahuan yang menjadi kajian pada kali ini adalah aspek-aspek yang mendasari lahirnya ilmu pengetahuan yang berkembang dan mungkin muncul ditengah kehidupan umat manusia masa lalu dan masa kini. Pentingnya mengkaji sumber ilmu pengetahuan didasarkan atas: 1) Adanya perbedaan pandangan dikalangan filosof dan saintis tentang apa yang menjadi sumber ilmu; dan 2) perbedaan itu ternyata berkonsekwensi pada berbedanya paradigma yang dianut oleh masing-masing komunitas mmasyarakat dalam memandang dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan.
Dikalangan filosof dan saintis Muslim berkembang sebuah pemikiran bahwa sumber utama ilmu pengetahuan adalah wahyu yang termanifestasi dalam bentuk al-Qur’an dan sunnah Nabi. Tentu selain sumber empiris-yang faktual/induktif dan rasional/deduktif.
Berbeda dengan sumber ilmu dalam islam, dikalangan filosof dan saintis barat, sumber ilmu pengetahuan dibatasi hanya pada dua sumber utama. Kedua sumber ilmu pengetahuan yang ada di komunitas masyarakat terakhir ini adalah pengetahuan yang lahir atas pertimbangan rasio (akal/deduksi) dan pengetahuan yang dihasilkan melalui pengalaman (empiris/induksi). Sumber pengetahuan yang mendasari kebenaran pada pengalaman ini diistilahkan dengan empirisme, sedangkan kebenaran yang pertimbangannya pada rasio dikenal dengan istilah rasionalisme.
Mengenai sebab-musabab pengetahuan, juga bersangkutan erat dengan masalah sumber-sumber pengetahuan. Dikenal ada beberapa sumber, yaitu kepercayaan berdasarkan tradisi, adat-istiadat dan agama; kesaksian orang lain; pancaindran (pengalaman); akal, pikiran; dan intuisi.

C. Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan

Pengetahuan yang bagaimanakah yang membedakan antara pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan lainnya? Jawaban dari pertanyaan ini adalah tidak dapat secara langsung dituturkan, melainkan kita harus melihat terlebih dahulu persoalan yang sesungguhnya yang membedakan ilmu dari pengetahuan lainnya.
Ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah menurut The Liang Gie mempunyai lima ciri pokok, yaitu:
1. Empiris, pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan.
2. Sistematis, berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur.
3. Objektif, ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan pribadi.
4. Analitis, pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya ke dalam bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari bagian-bagian itu.
5. Verifikatif, dapat diperiksa kebenarannya oleh siapa pu juga.

Van Meslen mengemukakan ada delapan ciri yang menandai ilmu, yaitu sebagai berikut:
1. Ilmu pengetahuan secara metodis harus mencapai suatu keseluruhan yang secara logis koheren. Itu berarti adanya sistem dala penelitian (metode) maupun harus (susunan logis).
2. Ilmu pengetahuan tanpa pamrih, karena hal itu erat kaitannya dengan tanggung jawab ilmuan.
3. Universalitas ilmu pengetahuan.
4. Objektivitas, artinya setiap ilmu terpimpin oleh objek dan tidak didistori oleh prasangka-prasangka subjektif.
5. Ilmu pengetahuan harus dapat diverifikasi oleh semua peneliti ilmiah yang bersangkutan, karena itu ilmu pengetahuan harus dapat dikomunikasikan.
6. Progresivitas, artinya suatu jawaban ilmiah baru bersifat ilmiah sungguh-sungguh, bila mengandung pertanyaan baru dan menimbulkan problem baru lagi.
7. Kritis, artinya tidak ada teori yang definitif, setiap teori terbuka bagi suatu peninjauan kritis yang memanfaatkan data-data baru.
8. Ilmu pengetahuan harus dapat digunakan sebagai perwujudan kebertautan antara teori dengan praktis.

D. Fungsi Ilmu Pengetahuan

Sir Richard Gregori mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak dimaksudkan untuk mendirikan atau merobohkan suatu bagian tertentu dari kepercayaan atau iman, tetapi hanya untuk menguji dengan kritis apa saja yang datang kepadanya di dalam dunia wajar dan untuk mengakui dengan jujur.
Descartes, seorang sarjana ilmu pegetahuan yang membedakan antara nyawa dengan badan, berkata bahwa mempelajari ilmu pengetahuan agar suapaya mengetahui bagaimana membedakan antara benar dan palsu hingga sejelas-jelasnya.
R.B.S. Fudyartanta, dosen psikologi di Universitas Gajah Mada, menyebutkan ada empat macam fungsi ilmu pengetahuan, yaitu:
1. Fungsi Deskriptif: menggambarkan, melukiskan dan memaparkan suatu objek atau masalah sehingga mudah dipelajari oleh peneliti.
2. Fungsi Pengembangan: melanjutkan hasil penemuan yang lalu da menemukan hasil ilmu pengetahuan yang baru.
3. Fungsi Prediksi: meramalkan kejadian-kejadian yang besar kemungkinan terjadi sehingga manusia dapat mengambil tindakan-tindakan yang perlu dalam usaha menghadapinya.
4. Fungsi Kontrol: berusaha mengendalikan peristiwa-peristiwa yang tidak dikehendaki.
Tegasnya fungsi ilmu pengetahuan ialah untuk kebutuhan hidup manusia di dalam berbagai bidangnya.

E. Tugas Ilmu Pengetahuan

Jaman dulu orang cukup bisa hidup dengan pengetahuan langsung atau pengetahuan sehari-hari. Sekarang dan masa yang akan datang, manusia hanya akan bisa hidup dan mengembangkan kehidupannya dengan ilmu pengetahuan praktis yang mampu menciptakan teknologi mutakhir yang tepat guna (dengan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam ilmu pengetahuan teoritis murni dan filsafat). Dengan demikian ilmu pengetahuan praktis semakin memberikan sifat khusus kepada manusia dewasa ini. Adapun tugas ilmu pengetahuan yaitu antara lain Pertama : adalah dorongan ingin tahu (curiosity) yang dimiliki oleh semua manusia normal Kedua : adalah keinginan praktis dari pengetahuan yang diperoleh dari perenungan dan penyelidikan-penyelidikan. Dalam terminology ilmiah tugas-tugas ilmu pengetahuan antara lain sebagai berikut:
1. Tugas Exsplanatif/tugas mengadakan Explanation (tugas menerangkan gejala-gejala alam). Tujuan pokok dari penyelidikan-penyelidikan ilmiah tidak semata-mata untuk melukiskan (menggandakan deskripsi) gejala-gejala melainkan juga menyediakan keterangan-keterangan tentang gejala-gejala itu.
2. Tugas Prediktif/tugas mengadakan prediction (tugas meramal kejadian-kejadian alam dimasa depan)
3. Tugas Kontrol atau tugas mengadakan Kontrol (Tugas mengendalikan peristiwa-peristiwa yang bakal datang) Ilmu pengetahuan tidak hanya bertugas membeberkan kejadian-kejadian dan menyediakan hukum atau dalil untuk meramalkan kejadian-kejadian dimasa depan, tetapi juga bertugas mengontrol kejadian-kejadian yang makin banyak jumlahnya, yang dimaksud dengan mengontrol atau mengendalikan adalah mempermainkan kondisi-kondisi untuk menimbulkan kejadian-kejadian yang diinginkan.


Daftar Rujukan

Anshari, Endang Saifuddin. Ilmu, Filsafat & Agama. Bandung: PT Bina Ilmu.

Sumarna Cecep. 2006. Filsafat Ilmu: Dari Hakikat Menuju Nilai. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Surajiyo. 2007. Filsafat Ilmu & Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksar.

Suhartono Suparlan. 2005. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Soetriono dan SRDm Rita Hanafie. 2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Penerbit Andi.

http://www.skripsi.org/forum/viewtopic.php?f=10&t=57. Di akses pada hari rabu tanggal 11 Februari 2010.

http://alawy.ngeblogs.com/2009/12/26/ilmu-pengetahuan-teknologi-dan-kemiskinan/. Di akses pada hari rabu tanggal 11 Februari 2010.

Selasa, 29 Juni 2010

KONSULTAN

KONSULTAN

A. Pendahuluan

Manusia adalah makhluk sosial, di mana mereka akan selalu berinteraksi satu sama lain. Dari pola interaksi ini tentunya akan menyebabkan terjadinya gesekan-gesekan dalam setiap aktifitas yang mereka jalani. Berawal dari sinilah akan muncul banyak permasalahan hidup yang kompleks, baik yang berhubungan antar individu maupun kelompok dan tentunya hal ini membutuhkan penyelesaian dan jalan keluar. Apalagi di era globalisasi dan pasar bebas ini seseorang dituntut untuk bisa bersaing dengan yang lain. Sehingga untuk memecahkan permasalahan, mereka terkadang membutuhkan pertimbangan ataupun nasehat dari orang lain. Dan berawal dari sinilah banyak muncul jasa konsultan untuk membantu menyelesaikan problematika yang kompleks tersebut.
Jasa konsultan merupakan pemberian advice (petunjuk, pertimbangan, atau nasihat) profesional dalam suatu bidang usaha, kegiatan, atau pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga ahli atau perkumpulan tenaga ahli, yang tidak disertai dengan keterlibatan langsung para tenaga ahli tersebut dalam pelaksanaannya.
Seorang konsultan biasanya seorang ahli atau profesional dalam bidang tertentu dan memiliki pengetahuan yang luas tentang subjek.. konsultan biasanya bekerja untuk sebuah perusahaan konsultan atau bekerja sendiri, Tiap konsultan memiliki filosofi dan framework yang berbeda satu sama lain. Baik itu konsultan individu maupun konsultan yang tergabung dalam perusahaan jasa konsultan. Namun, secara umum, konsultan melakukan pekerjaan seperti pitching, riset, analisis, dan report writing. Siklus tersebut berjalan terus menerus dan berulang.
Adapun macam-macam konsultan yang banyak muncul diantaranya adalah konsultan keuangan, pajak, arsitektur, manajemen, hukum, pendidikan, bisnis, perkawinan dan lain sebagainya. Akan tetapi dalam paper yang sederhana ini tidak akan membahas satu persatu jenis konsultan di atas. Melainkan pembahasan kali ini lebih difokuskan pada gambaran konsultan secara umum.



B. Pembahasan

1. Definisi Konsultan
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, konsultan ialah ahli yang tugasnya memberi petunjuk, pertimbangan, atau nasihat dalam suatu kegiatan (penelitian, dagang, dsb); penasihat
Konsultan adalah seorang tenaga profesional yang menyediakan jasa nasehat ahli dalam bidang keahliannya, misalnya akuntansi, lingkungan, biologi, hukum, dan lain-lain. Perbedaan antara seorang konsultan dengan ahli 'biasa' adalah sang konsultan bukan merupakan karyawan di perusahaan sang klien, melainkan seseorang yang menjalankan usahanya sendiri atau bekerja di sebuah firma konsultasi, serta berurusan dengan berbagai klien dalam satu waktu. Namun, satu hal yang pasti, konsultan adalah pemecah masalah.

2. Langkah-Langkah Konsultan
a. Mengidentifikasi Masalah.
Kita datang kepada seorang konsultan karena kita memiliki masalah. Untuk masalah fisik, kita pergi ke dokter. Untuk masalah psikis, kita pergi ke psikolog atau psikiater. Untuk masalah hukum, kita mengunjungi ahli hukum. Untuk masalah keuangan, kita pergi ke konsultan keuangan. Jadi, seorang konsultan senantiasa bergelut dengan masalah para pelanggannya.
b. Mendiagnosis Masalah
Kapan masalah muncul, apa saja gejalanya, apa pemicunya, mengapa demikian. Diagnosis menyeluruh secara objektif ini dilakukan untuk mengidentifikasi akar masalah yang dihadapi ”pasien”. Dalam setiap pekerjaan, kita pasti menghadapi masalah. Jika ingin sukses, jangan lari dari masalah tersebut. Jangan pula mencoba untuk menutup-nutupinya. Sebaliknya, tangani masalah dengan sikap seorang konsultan. Diagnosis gejalanya secara menyeluruh untuk mengidentifikasi akar permasalahan yang dihadapi.


c. Menawarkan Opsi Jalan Keluar.
Jika akar permasalahan sudah berhasil ditemukan, akan lebih mudah bagi seorang konsultan untuk menawarkan opsi jalan keluar ataupun penyembuhan dari masalah yang dihadapi pelanggan. Seorang konsultan yang baik umumnya tidak memaksakan satu opsi jalan keluar. Ia akan membantu pelanggan untuk memilih satu opsi dari beberapa alternatif jalan keluar yang ditawarkan. Tiap alternatif diikuti dengan konsekuensi yang mengikutinya sehingga pelanggan lebih siap untuk memilih yang terbaik. Demikian pula dengan apa yang bisa kita lakukan di tempat kerja. Dalam memikirkan dan menawarkan jalan keluar, kita harus mempertimbangkan berbagai aspek yang terkait dalam tiap solusi agar solusi bisa dijalankan dengan sukses. Jika kita bisa diandalkan untuk memberikan jalan keluar, pasti kita akan mendapat perhatian dan dukungan dari banyak orang untuk meraih sukses. Misalnya, jika kita bergerak di bidang asuransi, tawarkanlah berbagai opsi perlindungan untuk masa depan (perlindungan terhadap kesehatan, hari tua, pendidikan anak). Jika kita bergerak di industri sepatu olahraga, tawarkanlah opsi berolahraga dan bergerak dengan nyaman dan sehat melalui sepatu yang kita produksi. Fokus pada satu keunggulan. Menurut Vince Lombardi, mutu kehidupan seseorang ditentukan oleh kedalaman komitmen orang tersebut pada satu keunggulan, apa pun bidang yang dipilihnya. Demikian pula dengan seorang konsultan. Konsultan mempunyai spesialisasi terhadap satu bidang, dan berusaha menjadi unggul dalam bidang tersebut. Banyak orang sukses yang fokus pada satu keunggulan, sehingga ia menjadi sangat baik pada bidang tersebut. Misalnya: Leonardo da Vinci yang memiliki berbagai talenta, memfokuskan diri untuk unggul pada karya seni. Bagaimana dengan kita? Kita harus segera memutuskan untuk menjadi yang terbaik pada apa pun bidang yang telah kita pilih untuk kita tekuni. Komitmen yang kuat untuk menjadi sangat baik atas apa yang kita kerjakan, dapat menjadi titik yang menentukan untuk meraih sukses dalam hidup kita menjadikan segalanya lebih baik. Walaupun segala sesuatu sudah berjalan baik (tidak ada masalah), bukan berarti tidak ada kesempatan untuk menjadikannya lebih baik, lebih mudah, lebih sederhana, lebih cepat selesai, lebih banyak, lebih unggul dalam kualitas, ataupun lebih praktis. Pada prinsipnya, seorang konsultan diharapkan dapat menawarkan perubahan ke arah yang lebih baik. Bagaimana penerapannya dalam pekerjaan kita sehari-hari? Jangan puas terhadap apa pun yang ada saat ini. Pastikan bahwa kita senantiasa menggulirkan perubahan ke arah yang lebih baik: menjadikan proses kerja lebih cepat, hasil kerja lebih baik, pesanan lebih banyak, keuntungan lebih besar.
3. Prinsip-Prinsip Konsultan
Tidak mudah memang untuk bertindak sebagai seorang konsultan untuk meraih sukses. Seringkali kita cenderung untuk bertindak sebagai seorang ”diktator” yang ingin memaksakan kehendak, dan memfokuskan pada kepentingan sendiri, bukan kepentingan ”pelanggan” yang kita layani. Untuk dapat bertindak sebagai seorang konsultan yang sukses, ada lima prinsip dasar yang bisa kita terapkan, yaitu:
a. Masalah adalah kesempatan.
Mendengar kata masalah saja, banyak orang sudah gemetar. Jika mungkin, banyak orang yang ingin lari saja dari masalah, atau jika masalah tidak terhindarkan, masalah tersebut disembunyikan dari publik. Tidak demikian dengan seorang konsultan. Konsultan bahkan ”hidup” dari masalah. Bagi seorang konsultan, masalah adalah kesempatan yang membuka jalan untuk berbisnis dan meraih sukses. Jadi, ketika menghadapi masalah, seorang konsultan akan tertantang untuk menyelesaikannya. Jika ingin sukses seperti seorang konsultan, jangan takut terhadap masalah.
b. Solusi adalah keunggulan.
Jika masalah adalah kesempatan untuk berbisnis guna meraih sukses, maka bagi seorang konsultan, solusi adalah ”keunggulan” yang bisa ditawarkannya bagi pelanggan. Jadi, solusi memegang peran penting dalam berbinis. Pentingnya peranan sebuah solusi yang ditawarkan, menjadikan seorang konsultan menaruh perhatian besar untuk senantiasa menawarkan solusi yang unggul, yang lebih unggul dari para pesaingnya di industri yang sama. Untuk itu, seorang konsultan bersedia mendedikasikan tenaga, pikiran, dan sarana untuk mendapatkan solusi yang terbaik bagi masalah yang dihadapi oleh pelanggan. Demikian pula dengan kita yang ingin meraih sukses. Kita harus berusaha menawarkan solusi yang terbaik (bukan yang biasa-biasa saja).
c. Pengetahuan adalah aset.
Agar dapat menawarkan solusi yang unggul, diperlukan pengetahuan yang kaya terhadap setiap permasalahan yang dihadapi. Jadi, pengetahuan harus senantiasa di-upgrade (diperbarui, dilengkapi, dan ditingkatkan), agar keunggulan dalam memberikan solusi bisa selalu terjaga.
Bagaimana caranya? Tentu saja dengan pembelajaran berkelanjutan. Banyak yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan pengetahuan, antara lain: bergabung dengan 10% yang terbaik di bidang yang kita tekuni, membaca berbagai jenis bacaan yang langsung terkait dengan bidang kita, menghadiri berbagai diskusi, pelatihan, seminar yang menunjang keahlian kita, ataupun bersikap terbuka untuk belajar dari orang lain.
Semakin banyak pengetahuan kita, semakin luas wawasan kita, semakin tajam analisis kita, maka semakin unggul solusi yang kita tawarkan. Dengan demikian semakin percaya orang lain akan kualitas kita untuk menawarkan solusi.
d. Pertanyaan adalah senjata.
Bagi seorang konsultan yang senantiasa bergelut dengan berbagai masalah yang dihadapi oleh kliennya, pertanyaan adalah senjata yang ampuh untuk mendapatkan Solusi. Seorang konsultan akan terus bertanya ”Mengapa?” tidak hanya satu kali, tetapi beberapa kali, sampai tidak ada lagi yang bisa dipertanyakan. Setiap pertanyaan membuka kesempatan untuk menemukan alternatif jalan keluar. Pertanyaan bisa ditujukan pada diri sendiri, orang lain, ataupun pelanggan. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini menjadikan segalanya lebih jelas, sehingga lebih mudah untuk menyusun strategi mencari jalan keluar.
Sikap ”ingin tahu” yang melahirkan serentetan pertanyaan perlu kita adopsi untuk melengkapi kita dengan senjata pengetahuan yang unggul.
e. Kepercayaan adalah modal usaha.
Kepercayaan adalah modal utama dari sebuah usaha konsultasi. Tanpa adanya rasa percaya pelanggan pada konsultan, usaha ini akan hancur. Masyarakat akan menghubungi seorang konsultan, karena ada rasa percaya pada konsultan tersebut. Untuk itu, seorang konsultan akan senantiasa memupuk kepercayaan dengan bertindak profesional dan menunjukkan integritas yang tinggi.
Ia tidak akan berbohong hanya untuk mendapatkan uang semata. Ia juga tidak akan mengorbankan kualitas karena mengejar kuantitas ataupun target bisnis semata.
Jika memang ada masalah yang sulit diselesaikannya sendirian, pasti ia akan merekomendasikan klien untuk menghubungi ahli lain yang bisa membantu klien tersebut. Konsistensi dalam perkataan dan perbuatan juga dilakukan untuk memupuk kepercayaan.
Demikian pula dengan kita di tempat kerja. Untuk membuat orang lain mendukung kita, kita perlu menjadikan kepercayaan sebagai modal usaha. Menurut Brian Tracy, seorang konsultan bisnis yang sukses, kita sebaiknya jangan pernah melakukan atau mengatakan sesuatu yang tidak kita yakini sebagai hal yang benar,baik, dan jujur.
Kita juga dianjurkan untuk tidak mengkompromikan integritas kita demi apa pun, dan agar kita bertindak sesuai dengan standar tertinggi yang kita kenal. Jadi, untuk meraih sukses, kita perlu mengambil keputusan untuk secara konsisten menjunjung tinggi integritas kita yang dapat menumbuhkan kepercayaan orang lain.
Apa pun bidang usaha yang kita tekuni, apa pun produk ataupun jasa yang kita tawarkan, kita perlu mengadopsi sikap seorang konsultan dan prinsip dasar yang diterapkannya. Dengan bertindak sebagai seorang konsultan, kita bisa meraih sukses dengan menjadikan produk dan jasa yang kita tawarkan bukan semata sebagai ”barang dagangan”, tetapi sebagai solusi atas masalah yang dihadapi pelanggan.

4. Macam-Macam Konsultan
a) Human Resources (HR) Consulting
Adalah konsultan yang memfokuskan diri pada upaya-upaya untuk memaksimumkan value SDM perusahaan dengan menempatkan the right people with the right skills in the right roles. Hal ini disadari mengingat kini perusahaan banyak berinvestasi pada human capital dan berharap banyak dari investasi tersebut.
Keterlibatan konsultan ini bisa dimulai sejak proses rekrutmen, melakukan training dan development, memberkan jasa konseling, menyusun benefit’s package dan compensation sttructure, membangun kultur dan komunikasi dalam perusahaan, dan sebagainya. Beberapa contoh konsultan bidang ini seperti Hewitt Associates, Towers Perrin, Watson Wyatt Worldwide, dan Mercer HR Consulting.
b) Information Technology (IT) Consulting
American Management Systems, Accenture, Cambridge Technology Partners, Computer Sciences Corporation, dan Electronic Data Systems (EDS) adalah contoh leading IT consulting firms. Mereka menangani permasalahan bisnis yang kental dengan isu-isu teknis dari sistem/teknologi informasi. Mereka bertanggung jawab mulai dari proses analisis, desain, hingga impelementasi sistem, untuk memastikan solusi tersebut align dengan proses bisnis mereka.
Contoh task project yang ditangani oleh IT consulting firms misalnya menguji vulnerability sistem internet banking sebuah bank, instalasi dan troubleshooting modul-modul ERP, menangani konversi database pelanggan ke server berbasis Oracle, dan sebagainya.
c) E-Consulting
Adalah konsultan yang concern pada permasalahan yang terkait dengan e-business dan e-commerce dalam skala yang luas. E-business biasanya me-refer pada kegiatan bisnis yang dijalankan secara online, sementara e-commerce umumnya merupakan kegiatan yang melibatkan transfer unit moneter melalui media elektronik/internet. Beberapa konsultan bidang ini antara lain Digitas, Razorfish, dan Sapient. Mereka memiliki spesialisasi mulai dari front-end design (programming, desain grafis) hingga valuasi, branding, marketing, jasa B2B, dan sebagainya.
d) Boutique Consulting Firms
Umumnya fokus menurut bidang yang ditangani, walaupun tidak selalu kecil menurut ukuran atau jumlah karyawan. Konsultan ini biasanya hanya berfokus pada industri tertentu, fungsi bisnis tertentu, atau menggunakan metodologi tertentu. Perkerjaan yang ditangani pun sangat spesifik, misalkan membantu Departemen BUMN untuk menyusun struktur privatisasi dan membuka tender, melakukan turnaround sebuah perusahaan telekomunikasi yang mengalami kesulitan keuangan dan terancam bangkrut, atau melakukan process reengineering pada perusahaan otomotif dalam membuat implementasi standar bagi suppliernya.
Beberapa ontoh konsultan ini seperti Charles River Associates (fokus pada bidang ekonomi dan jasa litigasi), L.E.K Consulting (menangani strategi bisnis, merger dan akuisisi), atau Marakon Associates (fokus pada shareholder value methodology).
e) Internal Consulting Firms
Daripada membayar konsultan outsider dengan billing rate mahal, beberapa perusahaan memilih untuk membuka unit konsultan internal. Mereka biasanya disebut “internal consulting” atau, dalam beberapa kasus, “corporate strategy” atau “strategic planning“. Misalnya sebuah perusahaan migas besar ingin meng-hire mitra kerja untuk menangani distribusi dan pemasaran unit hilir dalam jangka panjang, maka konsultan internallah yang menangani masalah semacam itu.
Berbeda dengan konsultan lain, konsultan internal dibayar berdasar gaji (tetap) dan umumnya tidak memerlukan perjalanan luar kota/luar negeri secara intens. Amex mempunyai divisi yang mereka sebut sebagai American Express Strategic Planning Group. Johnson & Johnson punya divisi Decision Sciences Group. JP Morgan Chase menyebutnya JP Morgan Chase Internal Consulting Services.Cargill menyebutnya sebagai Cargill Strategy and Business Development.
.
C. Penutup
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat kita ambil beberapa poin penting:
1. Konsultan adalah seorang tenaga profesional yang menyediakan jasa nasehat dalam bidang keahliannya, misalnya akuntansi, lingkungan, biologi, hukum, pendidikan, arsitektur, perusahaan dan lain-lain.
2. Seorang konsultan merupakan orang yang ahli atau profesional dalam bidang tertentu dan memiliki pengetahuan yang luas tentang subjek.. konsultan biasanya bekerja untuk sebuah perusahaan konsultan atau bekerja sendiri,
3. Ada lima prinsip dasar yang harus dimiliki seorang konsultan, yaitu:
a. Masalah adalah kesempatan
b. Solusi adalah keunggulan.
c. Pengetahuan adalah aset
d. Pertanyaan adalah senjata
e. Kepercayaan adalah modal usaha




Daftar Rujukan

Wibisono, Budi. (2005). Menjadi Konsultan Handal. Jakarta: Rineka Cipta.
Tracy, Brian (2001). Business Development. Canada: Express.
Devas Nick (1999). Financing Local Government, Planning and Administration. Iula: Ohio Univercity.
Johan Arimukti. (2001). Etika Bisnis; Langkah Awal Menuju Kesuksesan. Jakarta: Rajawali Press.
Hadimulyono Siregar. (2002). Tantangan Era Globalisasi. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.
Toha Zaenuddin dkk. (2000). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surabaya: Apollo.

CIRI-CIRI AKSIDENSI

Ciri-ciri Aksidensi

A. Pendahuluan
Aksidensi merupakan bagian dari kategori pengertian. Hal ini mengacu kepada pendapat Aristoteles, bahwa pengertian digolongkan menjadi dua golongan besar, yaitu ‘substansi’ dan ‘aksidensi’.
Menurut Aristoteles, gagasan-gagasan atau konsepsi yang ada dalam pikiran tidak diambil dari alam ide sebagaimana disampaikan Plato, melainkan direkam dari alam nyata, kenyataan empiris yang ditangkap indera. Gagasan atau konsepsi dari alam riil yang direkam indera kemudian diolah dan disusun secara sistematis menurut aturan logis untuk mengungkap gagasan dan kebenaran lain yang lebih tinggi daripada apa yang dicapai indera. Jika dalam pikiran seseorang telah terbentuk konsep-konsep kebenaran, maka dengan silogisme atau aturan logis, akan di temukan kebenaran atau gagasan lain yang tidak dikenal sebelumnya.. Prinsip kerja dari gagasan ini adalah (1) adanya benda-benda alam yang bisa diindera, (2) terjadinya gambaran atau persepsi dalam pikiran, (3) pengungkapan atas gambaran yang ada dalam pikiran tersebut lewat bahasa atau kata.Tentang penentuan apa yang ada yang ditangkap pikiran lewat indera.

B. Pengertian Aksidensi
Substansi adalah pengertian yang menunjuk hal yang adanya pada dirinya sendiri, tidak tergantung pada yang lain diluar dirinya. Aksidensi adalah pengertian yang menunjuk hal yang adanya tidak pada dirinya sendiri melainkan melekat dan sangat bergantung pada substansi.
Aristoteles menyelidiki tentang hakikat ‘Ada’ (Things) ini, ia membedakan bahwa ada itu ada yang primer dan sekunder. ‘Ada’ yang primer disebut dengan ‘substansi’, yaitu sesuatu yang menunjukkan dirinya sendiri dan tidak memerlukan sesuatu yang lain (dalam penunjukkannya). ‘Ada’ yang sekunder disebut dengan ‘aksiden-aksiden’, yaitu suatu hal yang tidak berdiri sendiri, tetapi ia harus dihubungkan dengan sesuatu yang lain yang berdiri sendiri. Dengan kata lain, aksiden-aksiden hanya dapat berada dalam suatu substansi dan tidak pernah lepas darinya.

C. Ciri-ciri Aksidensi
Realitas menurut Aristoteles tersusun atas satu substansi dan sembilan aksidensi yang terkenal dengan nama sepuluh kategori (The Categories). Maka sepuluh kategori yang dimaksud adalah 1) Substansi (Substance) 2) Kualitas (Quality) 3) Kuantitas (Quantity) 4) Relasi (Relation) 5) Tempat/Ruang (Place) 6) Waktu (Time) 7) Kedudukan (Position/Posture) 8) Keadaan (State/Clothing) 9) Aktivitas (Activity/Action) 10) Pasifitas (Passivity/Affection). Ciri-ciri aksidensi menurut aristoteles adalah:
1) Merupakan sesuatu yang menjadi sifat khusus dari barang sesuatu.
2) Hal-hal tersebut bersifat material.
3) Hal-hal tersebut mampu bereksistensi.
4) Terkungkung oleh ruang dan waktu.
Berdasarkan ciri diatas maka aksidensi secara garis besar bisa di kategorikan sebagai berikut:
1. Kualitas (Quality)
Kualitas merupakan salah satu bentuk ‘aksiden-aksiden’, yaitu suatu hal yang tidak berdiri sendiri, yang menunjukkan nilai dan potensi dari sesuau substansi yang di tempatinya, sehingga apabila dihubungkan dengan sesuatu yang lain yang berdiri sendiri (substansi) maka nilai atau potensi dari sesuatu itu akan menjadi ciri khusus dari substansi tersebut.Misal: Manusia adalah mahluk yang cerdas. Sifat cerdas akan menjadi ciri khusus dari manusia tersebut.
2. Kuantitas (Quantity)
Kuantitas memberikan sifat khusus pada substansi berupa kapasitas dan jumlah dari sesuatu tersebut. Misal: manusia itu tingginya 180 cm.
3. Relasi (Relation)
Relasi merupakan aksiden yang tidak bisa berdiri sendiri tanpa ada substansi yang di lekatinya. Relasi memberikan ciri kusus berupa hubungan atau relasivitas. Misal: Aristoteles lebih muda dari Plato.
4. Tempat / Ruang (Place).
Tempat adalah salah satu bentuk aksiden yang akan memberikan ciri khusus kepada substansinya berupa lokasi atau wilayah. Misal: Plato tinggal di Athena.
5. Waktu (time).
Misal: Seseorang yang hidup pada abad ke 5 SM
6. Kedudukan (Potition/Posture).
Merupakan bentuk aksiden yang memberikan sifat khusus pada substansinya berupa keadaan atau posisi dari sesuatu tersebut. Misal: manusia itu sedang duduk.
7. Keadaan (State).
Misal: anak itu berpakaian.
8. Aktivitas (Activity)
Misal: manusia itu telah memotong sepotong kain.
9. Pasifitas (Pasivity/ Affection)
Misal: Manusia itu dibunuh dengan racun.

D. Kesesatan Aksidensi
Kesesatan ini terjadi jika kita menerapkan prinsip-prinsip umum atau pernyataan umu kepada peristiwa-peristiwa tertentu yang karena keadaanya yang bersifat aksedential menyebabkan penerapan itu tidak cocok. Contohnya, seseorang member susu dan buah-buahan kepada bayinya meskipun bayi itu sakit, dengan pengrtian bahwa susu dan buah-buahan itu baik bagi bayi, maka si ibu itu melakukan penalaran yang sesat karena aksidensinya. Contoh lain, yaitu makan itu pekerjaan yang baik. Akan tetapi jika kita makan ketika berpuasa, maka penalaran kita sesat karena aksidensi.


DAFTAR PUSTAKA

Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta, Gramedia, 1996), 530.
Kattsoff, Pengantar Filsafat, terj. S. Sumargono, (Yogyakarta, Tiara Wacana, 1992), 130.
Dardiri, Humaniora, Filsafat dan Logika, (Jakarta, Rajawali, 1985)
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat, 38-9; Copleston, A History of Philosophy, I, 372.